<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1429" />
  <subtitle />
  <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1429</id>
  <updated>2026-04-23T11:25:40Z</updated>
  <dc:date>2026-04-23T11:25:40Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Studi Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Beton Berpenampang Bulat Pada Proyek Pembangunan Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1684" />
    <author>
      <name>Silva, Nelson Francisco A. D. S.</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1684</id>
    <updated>2022-11-22T03:25:18Z</updated>
    <published>2011-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Studi Perencanaan Pondasi Tiang Pancang Beton Berpenampang Bulat Pada Proyek Pembangunan Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang
Authors: Silva, Nelson Francisco A. D. S.
Abstract: Pondasi tiang pancang merupakan elemen struktur yang berfungsi untuk&#xD;
meneruskan beban beban bangunan ke tanah. Pondasi tiang pancang ini digunakan&#xD;
apabila tanah dasar dibawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung yang&#xD;
cukup kuat untuk memikul bangunan dan beban diatasnya atau daya dukung tanah&#xD;
keras terletak pada posisi yang sangat dalam. Daya dukung tiang pancang diperoleh&#xD;
dari gesekan antara selimut tiang dengan tanah dan tahanan ujungnya. Keuntungan&#xD;
dalam memakai pondasi tiang pancang dari segi waktu karena dapat dilaksanakan&#xD;
dengan cepat, kualitas bahan lebih terkontrol dan dapat dipancang sampai pada&#xD;
kedalaman tertentu.&#xD;
Kriteria dalam perencanaan pondasi tiang (1) perhitungan pembebanan pada&#xD;
pondasi tiang pancang (2) Perhitungan jumlah tiang pancang (3) Perhitungan daya&#xD;
dukung pondasi tiang pancang (4) Penurunan tiang pancang. Data penelitian yang&#xD;
digunakan antara lain data lapangan hasil sondir di 6 titik dan denah bangunan.&#xD;
Perhitungan perencanaan pondasi tiang pancang didasarkan pada beban yang&#xD;
bekerja diatasnya dimana beban-beban tersebut dibagi dalam 3 jenis antara lain beban&#xD;
berat, beban sedang dan beban ringan. Hasil perhitungan yang didapat (1) untuk&#xD;
beban berat 425811.8 kg digunakan 9 buah tiang pancang dengan diameter 50 cm&#xD;
(2)untuk beban sedang 306742.7 kg digunakan 6 buah tiang dengan diameter 45 cm&#xD;
(3)untuk beban ringan 176824.1 kg digunakan 4 buah tiang dengan diameter 30 cm.&#xD;
Dan penurunan yang terjadi setelah dilakukan pendekatan dengan metode Vesic&#xD;
(1977) untuk tiang tunggal dan kelompok tiang (1) untuk tiang pancang dengan beban&#xD;
berat penurunan tiang tunggal = 0.84 cm dan penurunan kelompok tiang= 2.4 cm&#xD;
(2)untuk tiang pancang dengan beban sedang penurunan tiang tunggal= 0.68 cm&#xD;
penurunan kelompok tiang=1.57 cm (3)untuk tiang pancang dengan beban ringan&#xD;
penururnan tiang tunggal= 0.39 cm kelompok tiang = 0.91 cm Dan dalam merencanakan suatu pondasi tiang pancang perlu mempertimbangkan beberapa hal antara lain mengetahui kondisi dan karakteristik tanah setempat sifat dan kepentingan struktur, besarnya beban yang bekerja serta kelayakan teknis maupun ekonominya.</summary>
    <dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Klasifikasi Panjang Loncatan Dan Kehilangan Energi Pada Loncatan Hidraulik Melalui Pintu Sorong (Sluice Gate)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1683" />
    <author>
      <name>Oca, Maria Melania Mendonca</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1683</id>
    <updated>2022-11-22T03:19:45Z</updated>
    <published>2011-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Klasifikasi Panjang Loncatan Dan Kehilangan Energi Pada Loncatan Hidraulik Melalui Pintu Sorong (Sluice Gate)
Authors: Oca, Maria Melania Mendonca
Abstract: Irigasi sangat diperlukan untuk mengairi lahan pertanian maka diperlukan&#xD;
perencanaan irigasi agar air yang di salurkan pada jaringan irigasi yaitu penyediaan,&#xD;
pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air dapat terkontrol dengan baik&#xD;
sehingga perlu adanya bangunan pengontrol debit air yang disebut pintu sorong (sluice&#xD;
gate).&#xD;
Pada saat pintu sorong (sluice gate) dibuka biasanya terjadi aliran bebas (free flow)&#xD;
yang disertai dengan adanya loncatan hidraulik (hydraulic jump) dan terdapat koefisien&#xD;
kontraksi (Cc, contraction coefficient) akibat aliran getar sehingga dapat mengakibatkan&#xD;
gerusan yang dapat membahayakan dinding struktur saluran. Maka dalam penulisan&#xD;
skripsi ini penulis mencoba untuk meneliti tipe loncatan hidraulik (F1) yang terjadi&#xD;
melalui pintu sorong dengan adanya variasi debit (Q) dan variasi bukaan pintu (a),&#xD;
mendapatkan nilai panjang loncatan hidraulik (Lj) dan kehilangan energi (EL/E1) akibat&#xD;
loncatan hidraulik dengan menggunakan data sekunder dari penelitian terdahulu yaitu&#xD;
saluran sekunder dilengkapi dengan 2 pintu yaitu pada saluran 1 tidak terdapat pintu&#xD;
sorong dengan ambang dibawah pintu (tanpa weir) sedangkan di saluran 2 terdapat pintu&#xD;
sorong dengan ambang dibawah pintu (weir). Data debit air (Q) yang digunakan untuk&#xD;
analisis adalah 155, 233, 311, 389, 467 l/det, dengan variasi bukaan pintu a1 = 6, 9, 12&#xD;
cm; a2 = 6 cm dan a1 = 6, 9, 12 cm; a2 = 12 cm.&#xD;
Dari hasil data sekunder tersebut maka didapatkan tipe loncatan hidraulik (F1) yang&#xD;
terjadi melalui pintu sorong pada saluran 1 yaitu tipe loncatan berombak, sedangkan&#xD;
untuk saluran 2 terdapat 3 (tiga) tipe loncatan yaitu tipe loncatan berombak, lemah, dan&#xD;
getar. Panjang loncatan hidraulik (Lj) yang terjadi pada saluran 1 nilainya adalah antara&#xD;
31,05 cm – 115,713 cm. Sedangkan pada saluran 2 panjang loncatan hidraulik (Lj) yang&#xD;
terjadi nilainya antara 9,108 cm – 115,092 cm. Kehilangan energi relatif (EL/E1) pada&#xD;
saluran 1 dan saluran 2 tidak mempengaruhi kondisi aliran di hilir sungai (tidak&#xD;
menimbulkan gerusan pada hilir saluran) karena dari hasil analisis kehilangan energi&#xD;
relatif pada saluran 1 dan saluran 2 adalah (&lt;45%).</summary>
    <dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Klasifikasi Tingkat Bahaya Dan Daerah Genangan Akibat Keruntuhan Bendungan (Studi Kasus Di Bendungan Jatiluhur, Saguling Dan Cirata)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1681" />
    <author>
      <name>Werang, Gaudensius Mathias Kinu</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1681</id>
    <updated>2022-11-22T03:07:26Z</updated>
    <published>2011-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Klasifikasi Tingkat Bahaya Dan Daerah Genangan Akibat Keruntuhan Bendungan (Studi Kasus Di Bendungan Jatiluhur, Saguling Dan Cirata)
Authors: Werang, Gaudensius Mathias Kinu
Abstract: Jatiluhur merupakan salah satu dari tiga bendungan (Saguling,Cirata &amp; Jatiluhur) di Jawa Barat yang saling berhubungan satu sama lainnya. Sumber air ketiganya bersumber dari Sungai Citarum. Pertama air Sungai Citarum mengairi Waduk Saguling, lalu dari Saguling turun menuju Waduk Cirata lalu selanjutnya diturunkan lagi ke Waduk Jatiluhur. Jadi kalau dari ketinggian Waduk Jatiluhur berada di tempat yang paling rendah berdasarkan ketinggiannya sekitar ± 100 m di atas permukaan laut, sedangkan Cirata berada ± 200 m, dan Saguling yang sudah masuk Kab.Bandung lebih tinggi lagi sekitar ± 650m. Tingkat bahaya runtuhnya suatu bendungan didasarkan pada jumlah penduduk kena resiko di hilir bendungan yang berada dalam bahaya dapat ditentukan dengan menggunakan Klasifikasi Hazard atau klasifikasi tingkat bahaya yaitu : (1) Low Hazard-tingkat bahaya rendah, (2) Moderate Hazard-tingkat bahaya sedang, (3) Significant Hazard-tingkat bahaya agak tinggi, (4) High Hazardtingkat bahaya tinggi, (5) Very High Hazard-tingkat bahaya sangat tinggi, sedangkan untuk Klasifikasi Daerah Genangan berdasar kedalaman banjir dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu : (1) Daerah Bahaya 1 kedalaman banjirnya antara 0-0,50 m; (2) Daerah Bahaya 2 kedalaman banjirnya 0,50-2,0 m; (3) Daerah Bahaya 3 kedalaman banjirnya &gt; 2,0 m. Ternyata dari Tabel 4.1 kecamatan-kecamatan tersebut mendapatkan hasil Klasifikasi Hazard yang paling banyak terdapat pada Significant Hazard (Tingkat bahaya agak tinggi). Sedangkan untuk Klasifikasi Daerah Genangan berdasar kedalaman banjir dari Tabel 4.1 kecamatan-kecamatan yang paling banyak terdapat bahaya adalah termasuk dalam klasifikasi daerah bahaya (DB) 3 karena kedalaman banjirnya &gt; 2 m. Ternyata dari Tabel 4.2 kecamatankecamatan tersebut mendapatkan hasil Klasifikasi Hazard yang paling banyak terdapat pada High Hazard (Tingkat bahaya tinggi). Sedangkan untuk Klasifikasi Daerah Genangan berdasar kedalaman banjir dari Tabel 4.2 kecamatan-kecamatan yang paling banyak terdapat bahaya adalah termasuk dalam klasifikasi daerah bahaya (DB) 3.</summary>
    <dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Studi Alternatif Perencanaan Struktur Atas Jembatan Konang Kabupaten Trenggalek Dengan Menggunakan Balok Girder Prategang Segmental</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1680" />
    <author>
      <name>Kurniawan, eko</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1680</id>
    <updated>2022-11-22T03:00:34Z</updated>
    <published>2011-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Studi Alternatif Perencanaan Struktur Atas Jembatan Konang Kabupaten Trenggalek Dengan Menggunakan Balok Girder Prategang Segmental
Authors: Kurniawan, eko
Abstract: Indonesia merupakan negara kepulauan dan terdapat banyak sungai-sungai&#xD;
yang lebar sehingga diperlukan sarana penghubung yaitu sebuah jembatan.&#xD;
Dengan adanya jembatan ini maka mobilitas manusia dan barang dapat berjalan&#xD;
lancar. Pemilihan bahan struktur untuk jembatan dapat dilihat dari panjang&#xD;
jembatan dan fungsi dari jembatan tersebut. Oleh karena itu Jembatan Konang&#xD;
yang memiliki panjang bentang 92 meter akan direncanakan menggunakan beton&#xD;
prategang dengan membaginya menjadi 2 bagian dengan bentang masing-masing&#xD;
46 meter dan akan dijadikan 8 segmen dengan masing-masing segmen memiliki&#xD;
panjang 5,75 meter, dan lebar jembatan selebar 7 meter.&#xD;
Dalam skripsi ini penulis merencanakan struktur bangunan atas jembatan&#xD;
yang terdiri dari struktur sekunder yaitu plat lantai, trotoar dan struktur primer&#xD;
berupa balok gelagar. Dengan lebar lantai kendaraan 7m, tebal plat lantai 0,2m,&#xD;
tebal perkerasan 0,05m. Mutu baja tulangan yang dipakai yaitu: fy = 240 MPa, fy&#xD;
= 350 MPa, dan fy = 390 MPa sedangkan untuk mutu beton yang dipakai fc = 35&#xD;
MPa dan fc = 60 MPa.&#xD;
Dari hasil perhitungan pada perencanaan struktur bangunan atas sekunder&#xD;
jembatan, yaitu plat lantai menggunakan tulangan rangkap D16–12,5cm dan&#xD;
tulangan memanjang Ø10–20cm dan pada trotoar menggunakan tulangan D16–&#xD;
12,5cm dan tulangan memanjang Ø10–15cm. Perencanaan struktur atas primer&#xD;
jembatan yaitu balok gelagar penampang direncanakan bentuk I non-simetris,&#xD;
jenis tendon yang digunakan VSL tipe 31 Sc 31 untaian sebanyak 5 buah, total&#xD;
kehilangan gaya prategang sebesar 19%. Pada perhitungan balok ujung, tulangan&#xD;
vertikal digunakan 4D25 dan tulangan horizontal digunakan 4Ø25, sedangkan&#xD;
tulangan pecah ledak digunakan 9D19. Untuk penulangan non prategang yaitu:&#xD;
tulangan geser Ø12–7cm (tumpuan) dan Ø12–9cm (lapangan), Shear Connector&#xD;
D12–25cm, dan Tulangan memanjang 20D19.&#xD;
Secara teoritis perencanaan jembatan ini aman namun dalam pelaksanaan&#xD;
perlu diperhatikan faktor-faktor antara lain , faktor geografis lokasi proyek,&#xD;
ketersediaan bahan, dan kemudahan dalam pelaksanaan.</summary>
    <dc:date>2011-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

