<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/263" />
  <subtitle />
  <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/263</id>
  <updated>2026-04-25T08:14:13Z</updated>
  <dc:date>2026-04-25T08:14:13Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Pengaruh Konsentrasi Jagung Dan Starter Terhadap Sifat Fisik Dan Kimia Yoghurt Susu Jagung Manis ( Zea Mays L. Saccharata )</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1913" />
    <author>
      <name>Susanti, Agustina Adriana</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1913</id>
    <updated>2023-05-19T07:25:20Z</updated>
    <published>2019-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Pengaruh Konsentrasi Jagung Dan Starter Terhadap Sifat Fisik Dan Kimia Yoghurt Susu Jagung Manis ( Zea Mays L. Saccharata )
Authors: Susanti, Agustina Adriana
Abstract: Yoghurt merupakan produk susu yang mengalami fermentasi. Bakteri&#xD;
yang berperan dalam proses fermentasi yoghurt pada umumnya adalah&#xD;
Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus akan memfermentasi&#xD;
menjadi susu asam. Jagung manis merupakan salah satu varian jagung yang telah&#xD;
banyak diolah dalam berbagai bentuk aneka makanan. Salah satu cara untuk&#xD;
mengoptimalkan pemanfaatan jagung manis adalah mengolah jagung manis&#xD;
menjadi yoghurt nabati. Jagung digunakan sebagai sumber karbohidrat sedangkan&#xD;
sumber laktosa diperoleh dengan penambahan susu skim 5%. Starter yoghurt&#xD;
merupakan faktor penting pada proses pembuatan yoghurt jagung manis,&#xD;
Fermentasi ditujukan untuk memperbanyak jumlah mikroorganisme dan&#xD;
menggiatkan metabolismenya dalam makanan. Tujuan penelitian untuk&#xD;
mengetahui pengaruh konsentrasi jagung dan starter terhadap sifat fisik dan kimia&#xD;
yoghurt susu jagung manis (Zea mays L.saccharata). Rancangan penelitian adalah&#xD;
Rancangan Faktorial 2 faktor disusun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL).&#xD;
Faktor I yang terdiri dari 2 level yaitu konsentrasi jagung (1:1 b/v) dan (1:3 b/v),&#xD;
faktor II yang terdiri dari 3 level yaitu starter 2%, 5%, 10%. Variabel pengamatan&#xD;
terdiri dari TPC, Total Asam, pH, Viskositas, Protein, Uji Organoleptik Rasa,&#xD;
Organoleptik Overall. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan hasil tertinggi&#xD;
perlakuan (1:3 b/v) dan starter 10% yaitu TPC 73400 x 105&#xD;
, Total Asam 9,87%,&#xD;
pH terendah perlakuan (1:3 b/v) dan starter 10%, (1:1 b/v) dan starter 10%&#xD;
viskositas 12 Cp, (1:3 b/v) dan starter 1,69, Organoleptik Rasa Paling di sukai&#xD;
3,03 (1:1 b/v) dan starter 5%, dan (1:3 b/v) dan starter 5%, Organoleptik Overall&#xD;
2,77(1:3 b/v) dan starter 2%.</summary>
    <dc:date>2019-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Lama Pengukusan Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas Var. Ayamurasaki) Dan Cara Pengeringan Terhadap Sifat Fisiko-Kimia Dan Sensori Flakes</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1886" />
    <author>
      <name>Alfan, Aminuddin</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1886</id>
    <updated>2023-05-17T07:21:31Z</updated>
    <published>2019-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Pengaruh Lama Pengukusan Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas Var. Ayamurasaki) Dan Cara Pengeringan Terhadap Sifat Fisiko-Kimia Dan Sensori Flakes
Authors: Alfan, Aminuddin
Abstract: Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas Var. Ayamurasaki) atau ketela rambat yang&#xD;
semua bagian umbinya berwarna ungu. Pengeringan adalah suatu cara untuk&#xD;
mengurangi kadar air suatu bahan sehingga diperoleh hasil akhir yang kering.&#xD;
Pengukusan adalah proses pemanasan yang bertujuan menonaktifkan enzim yang&#xD;
akan merubah warna, cita rasa dan nilai gizi. Pengukusan bertujuan membuat bahan&#xD;
makanan menjadi masak dengan uap air mendidih. Flakes diartikan sebagai&#xD;
makanan yang memiliki kadar air rendah dengan tekstur yang renyah dalam bentuk&#xD;
produk sarapan yang penyajiannya menggunakan susu cair sebagai pelengkap.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengukusan ubi ungu&#xD;
(Ipomoea batatas Var. Ayamurasaki) dan cara pengeringan terhadap sifat fisikokimia dan sensori flake. Rancangan peneltian yang digunakan dalam percobaan ini&#xD;
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor lama pengukusan yang&#xD;
terdiri dari 2 level yaitu 15 menit dan 25 menit dan cara pengeringan yang terdiri&#xD;
dari pengering matahari, pengering oven dan pengering vakum. Interaksi antara&#xD;
lama pengukusan dan cara pengeringan berpengaruh sangat nyata terhadap&#xD;
kerenyahan, berpengaruh nyata terhadap kadar air, aktivitas antioksidan, daya serap&#xD;
air, dan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar pati. Sedangkan organoleptik&#xD;
tekstur, warna maupun rasa tidak berpengaruh nyata terhadap lama pengukusan dan&#xD;
variasi pengeringan. Hasil penelitian diperoleh hasil sifat fisiko-kimia dan sensori&#xD;
flakes tertinggi dan mendekati SNI terdapat pada pengukusan 25 menit dengan&#xD;
pengering vakum yaitu kadar air 3,80% aktivitas antioksidan 56,77%, kadar pati&#xD;
47,99% kerenyahan 272,73% dan daya serap air 50,08%. Sedangkan sifat sensori&#xD;
flakes yaitu tekstur flake sebesar 3,57%, warna 3,62%, dan rasa 3,48%.</summary>
    <dc:date>2019-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Analisis Aktivitas Antioksidan, Total Senyawa Fenolik dan Kandungan Cemaran Aflatoksin Pada Tempe dari Berbagai Varietas Kedelai (Glycine max L. Merill)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/748" />
    <author>
      <name>Ayu, Wulan Cahyaning</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/748</id>
    <updated>2021-03-29T06:18:41Z</updated>
    <published>2019-07-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Analisis Aktivitas Antioksidan, Total Senyawa Fenolik dan Kandungan Cemaran Aflatoksin Pada Tempe dari Berbagai Varietas Kedelai (Glycine max L. Merill)
Authors: Ayu, Wulan Cahyaning
Abstract: Tempe merupakan produk fermentasi asli Indonesia yang terbuat dari&#xD;
kacang kedelai atau jenis kacang-kacang lain yang menggunakan jamur Rhizopus&#xD;
oligosporus dan menggunakan jamur Rhizopus oryzae. Kedelai (Glycine max)&#xD;
termasuk salah satu sumber protein nabati yang harganya relatif murah jika&#xD;
dibandingkan dengan sumber protein hewani. Kedelai mengandung senyawa&#xD;
fenolik. Senyawa fenolik yang terdapat dalam kedelai sebagian berperan sebagai&#xD;
zat antioksidan. Antioksidan merupakan komponen yang mampu menghambat&#xD;
proses oksidasi. Kedelai juga mengandung aflatoksin. Tempe yang terbuat dari&#xD;
fermentasi kacang kedelai bisa terindikasi aflatoksin. Pada penelitian ini&#xD;
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan empat varietas&#xD;
kedelai yaitu kedelai impor cap “Bola” (A1), kedelai lokal varietas Dena 1 (A2),&#xD;
kedelai lokal varietas Devon 1(A3) dan , kedelai lokal varietas Anjasmara (A4).&#xD;
Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Penelitian ini dilakukan analisis&#xD;
aktivitas antioksidan, total senyawa fenolik dan cemaran aflatoksin. Hasil aktivitas&#xD;
antioksidan paling tinggi terdapat pada tempe varietas Anjasmara sebesar 38,62 ±&#xD;
0,22 dan terendah pada tempe varietas Dena 1 sebesar 29,83 ± 0,12. Hasil analisis&#xD;
total senyawa fenolik paling tinggi terdapat pada tempe varietas Anjasmara sebesar&#xD;
16,26 ± 0,29 dan terendah pada tempe varietas Dena 1 sebesar 13,96 ± 0,29 dan&#xD;
hasil analisis kualitatif cemaran aflatoksin menggunakan metode LC MS/MS paling&#xD;
rendah pada tempe varietas Devon 1 sebesar 2,53x10-7&#xD;
ppb dengan jenis aflatoksin&#xD;
B2 dan masih dalam ambang batas yang ditentukan oleh BPOM yaitu 20 ppb.</summary>
    <dc:date>2019-07-06T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Karakteristik Fisik Kimia Dan Organoleptik Cookies Dengan Campuran Tepung Mocaf Dan Tepung Kacang Tunggak (Vigna Unguiculata)</title>
    <link rel="alternate" href="https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/521" />
    <author>
      <name>Adjie, Steffie Susanto</name>
    </author>
    <id>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/521</id>
    <updated>2021-03-29T06:19:04Z</updated>
    <published>2019-06-27T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Karakteristik Fisik Kimia Dan Organoleptik Cookies Dengan Campuran Tepung Mocaf Dan Tepung Kacang Tunggak (Vigna Unguiculata)
Authors: Adjie, Steffie Susanto
Abstract: Cookies (kue kering) adalah salah satu jenis makanan ringan (camilan)&#xD;
yang sangat digemari masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Cookies&#xD;
merupakan jenis biskuit yang terbuat dari adonan lunak, renyah dan bila&#xD;
dipatahkan penampangnya tampak bertekstur kurang padat. Secara umum, tahap&#xD;
pembuatan cookies terdiri dari pencampuran, pencetakan dan pemanggangan.&#xD;
Pada dasarnya, pembuatan cookies menggunakan tepung terigu protein rendah.&#xD;
Tingginya permintaan tepung terigu sehingga meningkatkan volume impor&#xD;
gandum dari tahun ke tahun sehingga untuk mengurangi ketergantungan konsumsi&#xD;
terhadap tepung terigu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Tepung mocaf&#xD;
dan tepung kacang tunggak dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu&#xD;
dalam pembuatan cookies. Tepung mocaf merupakan tepung yang terbuat dari ubi&#xD;
kayu yang difermentasi. Tepung kacang tunggak merupakan tepung yang terbuat&#xD;
dari hasil penggilingan kacang tunggak.&#xD;
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh campuran tepung&#xD;
mocaf dan tepung kacang tunggak terhadap karakteristik kimia yang meliputi&#xD;
analisa proksimat, total kalori dan karakteristik fisik yang meliputi Texture Profile&#xD;
Analyzer (uji kekerasan), daya kembang serta organoleptik yang meliputi rasa,&#xD;
warna dan tekstur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang&#xD;
terdiri dari 4 (empat) perlakuan yaitu campuran tepung moocaf dan tepung kacang&#xD;
tunggak (100:0, 85:15, 70:30, 55:45).&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik yaitu cookies campuran&#xD;
tepung mocaf dan tepung kacang tunggak (70:30) dengan karakteristik kimia&#xD;
meliputi kadar air 3,31%, kadar protein 10,87%, kadar lemak 17,04%, kadar abu&#xD;
1,23%, serat kasar 6,12%, total kalori 534,80 kkal/100g dan karakteristik fisik&#xD;
meliputi uji kekerasan 10,92N, daya kembang 5,45 mm. Hasil organoleptik rasa&#xD;
2,64, warna 2,17 dan tekstur 2,75.</summary>
    <dc:date>2019-06-27T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

