<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/406</link>
    <description />
    <pubDate>Sun, 26 Apr 2026 22:15:05 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-26T22:15:05Z</dc:date>
    <item>
      <title>Analisis Produksi Hidrogen Campuran Minyak Kanola Dan Air Dengan Variasi Temperatur Melalui Media Porous Tembaga Menggunakan Prinsip Hydrogen Reformer</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/926</link>
      <description>Title: Analisis Produksi Hidrogen Campuran Minyak Kanola Dan Air Dengan Variasi Temperatur Melalui Media Porous Tembaga Menggunakan Prinsip Hydrogen Reformer
Authors: Wijayanto, Stephanus Jalu Budi
Abstract: Kemajuan teknologi dalam kehidupan dewasa ini sangat mempengaruhi kebutuhan&#xD;
akan energi dan bahan Bakar. Guna mengurangi ketergantungan dalam penggunaan&#xD;
bahan bakar fosil, langkah yang ditempuh adalah membuat energi terbarukan&#xD;
berupa hidrogen dengan menggunakan campuran minyak kanola dan air. Teknologi&#xD;
yang digunakan adalah steam reforming atau hydrogen reformer dengan variasi&#xD;
temperatur pada katalis. Minyak kanola (C18H34O2) mengandung 34 molekul&#xD;
hidrogen dan air (H2O) direaksikan dengan perbandingan 1:1, pada variasi&#xD;
temperatur 320o&#xD;
C, 350o&#xD;
C dan 370o&#xD;
C untuk menghasilkan hidrogen dan&#xD;
menggunakan sensor MQ-8 untuk mengetahui konsentrasi hidrogen. Pada&#xD;
penelitian pembakaran campuran minyak kanola dan air menghasilkan laju&#xD;
produksi hidrogen pada variasi temperatur 3200&#xD;
C 2327,7 ppm/dt, variasi temperatur&#xD;
350o&#xD;
C 3417,24 ppm/dt dan variasi temperatur 370o&#xD;
C 4600,64 ppm/dt. Pada laju&#xD;
reaksi variasi temperatur 320o&#xD;
C 0,1589 ppm/dt, variasi temperatur 350o&#xD;
C 0,18&#xD;
ppm/dt, dan variasi temperatur 370o&#xD;
C 0,21 ppm/dt. Dari hasil penelitian dapat&#xD;
disimpulkan, bahwa pengaruh variasi temperatur yang semakin tinggi maka&#xD;
molekul akan semakin cepat karena bertumbukan dan menjadi produk hidrogen.&#xD;
Untuk Temperatur yang ideal dalam penelitian ini adalah Temperatur 3700&#xD;
C&#xD;
5989,75 ppm/dt dimana hal ini disebabkan pemansan pada katalis mencapai puncak&#xD;
yang ideal dan sehingga laju produksi hidrogen lebih besar dan konstan</description>
      <pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/926</guid>
      <dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Analisis Pengaruh Variasi Temperatur Terhadap Standar Pengeringan Jagung, Selisih Rate Pengeringan Dan Kebutuhan Energi Menggunakan Pengering Tipe Cabinet Dryer</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/925</link>
      <description>Title: Analisis Pengaruh Variasi Temperatur Terhadap Standar Pengeringan Jagung, Selisih Rate Pengeringan Dan Kebutuhan Energi Menggunakan Pengering Tipe Cabinet Dryer
Authors: Samuel
Abstract: Pengeringan jagung merupakan salah satu cara untuk mempertahankan waktu&#xD;
penyimpanannya. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan&#xD;
alami yang memanfaatkan panas matahari dan pengeringan paksa yang menggunakan alat&#xD;
pengering. Pada pengeringan jagung kadar air yang sesuai dengan standar pengeringan&#xD;
adalah 12% hingga 14%.. Pada pengeringan menggunakan alat pengering tipe cabinet&#xD;
dryer penulis menggunakan variasi temperatur 50°C, 60°C dan 70°C dengan bahan bakar&#xD;
tongkol jagung basah. Hasil pengeringan jagung yang sesuai standar adalah pada&#xD;
pengeringan dengan temperatur 50°C pada jam ketiga pengeringan dengan hasil yang&#xD;
merata di ketiga rak dan penggunaan bahan bakar tongkol jagung basah yang lebih sedikit&#xD;
daripada pengeringan dengan temperatur 60°C dan 70°C dengan hasil yang sesuai standar&#xD;
pada jam kedua di rak A dan jam ketiga pada rak B dan rak C sehingga pengeringan&#xD;
menjadi lebih efisien pada pengeringan dengan temperatur 50°C. Pada proses pengeringan&#xD;
ini selisih rate pengeringan yang terbesar adalah di rak A pada temperatur 50°C dan 60°C,&#xD;
yaitu 0,44%. Kebutuhan energi pada proses pengeringan ini menggunakan bahan bakar&#xD;
tongkol jagung basah adalah 2.792,44 kJ/jam pada pengeringan dengan temperatur 50°C,&#xD;
3.309,05 kJ/jam pada pengeringan dengan temperatur 60°C dan 3.958,39 kJ/jam pada&#xD;
pengeringan dengan temperatur 70°C dengan kebutuhan bahan bakar tongkol jagung basah&#xD;
0.98 kg/jam untuk pengeringan dengan temperatur 50°C, 1.17 kg/jam untuk pengeringan&#xD;
dengan temperatur 60°C dan 1.40 kg/jam untuk pengeringan dengan temperatur 70°C</description>
      <pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/925</guid>
      <dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efektifitas Kinerja Mesin Rol Tekan Beralur Dengan Variasi Pembebanan Terhadap Kekuatan Tarik Serat (Fiber) Rumput Payung (Cyperus Alternifolius)</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/924</link>
      <description>Title: Efektifitas Kinerja Mesin Rol Tekan Beralur Dengan Variasi Pembebanan Terhadap Kekuatan Tarik Serat (Fiber) Rumput Payung (Cyperus Alternifolius)
Authors: Orlando, Rio
Abstract: Perkembangan material komposit merupakan tuntutan dari kemajuan teknologi di&#xD;
era saat ini. Material komposit terdiri 2 kombinasi yaitu filler dan matriks yang&#xD;
berfungsi sebagai material utama. Pembentukan filler sangatlah penting karena&#xD;
dapat mempengaruhi susunan material komposit. Salah satu cara pengolahan&#xD;
batang rumput payung yaitu dibuat menjadi serat yaitu dengan cara pengerolan.&#xD;
Pada penelitian mesin rol tekan beralur dirancang dengan daya motor penggerak 1&#xD;
HP dan putaran motor penggerak 1440 rpm. Putaran motor penggerak kemudian&#xD;
di reduksi menjadi 250 rpm. Pada proses pengerolan dilakukan tiga variasi gaya&#xD;
pembebanan yaitu 33 kg, 36 kg dan 39 kg. Hal ini bertujuan untuk mengetahui&#xD;
efektivitas kinerja mesin rol tekan beralur dan kekuatan tarik maksimal. Pengujian&#xD;
serat rumput payung pada gaya pembebanan 33 kg menghasilkan kekuatan tarik&#xD;
456,34 N/mm2&#xD;
, regangan yang didapat yaitu 3,29 % dan modulus elastisitas 118,9&#xD;
N/mm2 kemudian pada gaya pembebanan 36 kg dihasilkan kekuatan tarik 443,14&#xD;
N/mm2&#xD;
, regangannya 3,06 % dan modulus elastisitas 144,67 N/mm2&#xD;
. Sedangkan&#xD;
pada pembebanan 39 kg dihasilkan 417,76 N/mm2&#xD;
, regangan 2,83 % dan modulus&#xD;
elastisitas yaitu 147,26 N/mm2&#xD;
. Sehingga pembebanan yang efektif yaitu pada 33&#xD;
kg karena memiliki kekuatan tarik paling besar dan memerlukan daya penggerak&#xD;
paling rendah.</description>
      <pubDate>Sun, 01 Jan 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/924</guid>
      <dc:date>2017-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan Grafit Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Pack Carburizing Untuk Meningkatkan Kekerasan / Hardness Baja K110</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/741</link>
      <description>Title: Pemanfaatan Grafit Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Pack Carburizing Untuk Meningkatkan Kekerasan / Hardness Baja K110
Authors: Kristiawan, Nico
Abstract: Tempurung kelapa mengandung beberapa unsur diantaranya: karbon, hidrogen,&#xD;
oksigen, nitrogen dan sulfur. Karbon merupakan salah satu unsur yang paling banyak&#xD;
dipelajari dan diaplikasikan di berbagai bidang diantaranya sebagai bahan penyerap&#xD;
(adsoban), baterai, elektroda fuel cell dan super kapasitor. Karbon memiliki tiga&#xD;
struktur atau al otrop karbon utama yaitu grafit, fullerene, dan intan. Pada umumnya&#xD;
untuk memperoleh kekerasan baja dapat dilakukan dengan proses perlakuan panas&#xD;
(heat treatment) dan proses kimia (chemical heat treatment). Salah satu metode proses&#xD;
kimia yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kekerasan bahan adalah melalui&#xD;
proses carburizing. Proses carburizing merupakan proses penambahan unsur karbon&#xD;
(C) ke dalam logam khususnya pada bagian permukaan bahan di mana unsur karbon&#xD;
ini didapat dari bahan-bahan yang mengandung karbon sehingga kekerasan logam&#xD;
dapat meningkat, akan tetapi proses carburizing kurang menghasilkan kekerasan yang&#xD;
baik pada logam&#xD;
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan serbuk grafit terhadap&#xD;
kekerasan pada baja tipe K110 serta mengetahui temperatur pack carburizing yang&#xD;
ideal untuk meningkatkan kekerasan dari baja tipe K110.&#xD;
Dengan baja tipe K110 yang dipanaskan dengan temperatur 600oC, 800oC, 1000oC&#xD;
dan selanjutnya proses Pack Carburizing. Hasil pengujian kekerasan dengan variabel&#xD;
tanpa perlakuan 10,666 HRC, untuk temperatur 600oC sebesar 14,333 HRC; 800oC&#xD;
sebesar 17 HRC; 1000oC sebesar 57,333 HRC. Temperatur pack carburizing yang&#xD;
ideal untuk meningkatkan kekerasan pada baja tipe K110 adalah 1000oC dengan nilai&#xD;
kekerasan 57,333 HRC.</description>
      <pubDate>Thu, 22 Jun 2017 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/741</guid>
      <dc:date>2017-06-22T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

