<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/857</link>
    <description />
    <pubDate>Sat, 25 Apr 2026 09:42:43 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-25T09:42:43Z</dc:date>
    <item>
      <title>Analisis Jenis Aliran Dan Tipe Loncatan Pada Pintu Sorong Saluran Sekunder Bidang Hidrolika</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1912</link>
      <description>Title: Analisis Jenis Aliran Dan Tipe Loncatan Pada Pintu Sorong Saluran Sekunder Bidang Hidrolika
Authors: Agustino, Reynaldo Irvan
Abstract: Jenis aliran dan tipe loncatan adalah salah satu karakteristik hidrolika yang&#xD;
terdapat pada saluran sekunder dengan angka Froude sebagai penentu standar.&#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder&#xD;
(Sunik 2001) penelitian terdahulu. Yang dikaji dalam penelitian ini adalah jenis&#xD;
aliran dan tipe loncatan hidraulik yang terjadi di saluran sekunder melalui pintu&#xD;
sorong (sluice gate).&#xD;
Hasil penelitian adalah: pada saluran 1: seiring dngan brtambahnya debit,&#xD;
terdapat peningkatan nilai angka Froude (Fr) dengan jenis aliran kritis dan&#xD;
superkritis serta tipe loncatan yaitu berombak dan loncatan lemah. Hal ini khusus&#xD;
terjadi pada section 2, section 3, dan section 4. Sedangkan section yang lain, jenis&#xD;
aliran adalah subkritis (F &lt; 1) dan tidak terjadi loncatan hidraulik. Pada kelima&#xD;
variasi debit tersebut, semakin tinggi muka air (kisaran 40 – 90 cm), angka froude&#xD;
semakin kecil nilainya, mendekati 0,5 ( Fr &lt; 1 ), menunjukan aliran subkritis, tidak&#xD;
terjadi loncatan. Semakin rendah tinggi muka air (kisaran 10 – 30 cm), angka froude&#xD;
semakin besar nilainya, mendekati 2 (Fr &lt; 1), menunjukan aliran kristis dan&#xD;
subjektif, terjadi loncatan berombak dan lonctan lemah. Kecepatan pada range 50&#xD;
– 200 cm/detik, angka froude semakin kecil nilainya, mendekati 1 (Fr &lt; 1),&#xD;
menunjukan aliran subkritis, tidak terjadi loncatan. Kecepatan pada range 250 – 400&#xD;
cm/detik, angka froude semakin besar nilainya, mendekati 2 (Fr &gt; 1). Sesuai batas&#xD;
kecepatan pengaliran yang diijinkan yaitu 2 m/detik maka pada saluran tersebut&#xD;
kecepatan &lt;= 200 cm/detik dengan kondisi aliran subkritis dan tidak terjadi&#xD;
loncatan menunjukan keamanan pengaliran ( tidak menimbulkan erosi dihilir&#xD;
saluran). Dapat disimpulkan bawa tinggi muka h , maka angka Fr , nilai kecepatan&#xD;
v demikian pula sebaliknya.&#xD;
Pada saluran 2 ini dapat disimpulkan bahwa seiring dengan bertambahnya&#xD;
debit, terdapat peningkatan nilai angka froude (Fr) dengan jenis aliran kritis dan&#xD;
superkritis serta tipe loncatan yaitu berombak dan loncatan lemah. Hal ini khusus&#xD;
terjadi pada section 8-9. Sedangkan section yang lain, jenis aliran adalah subkritis&#xD;
( Fr &lt; 1) dan tidak terjadi loncatan hidraulik. Semakin tinggi muka air ( kisaran 20-&#xD;
80 cm), angka froude semakin kecil nilainya, mendekati 0,5 ( Fr &lt; 1), menunjukan&#xD;
aliran subkritis, tidak terjadi loncatan. Semakin rendah tinggi muka air ( kisaran 10-&#xD;
15 cm ), angka froude semakin besar nilainya, mendekati 2,5 ( Fr &lt; 1), menunjukan&#xD;
aliran kritis dan subjektis, terjadi loncatan berombak dan loncatan lemah.&#xD;
Kecepatan pada rage 50-150 cm/detik, angka froude semakin kecil nilainya,&#xD;
mendekati 1 ( Fr &lt; 1), menunjukan aliran subkritis, tidak terjadi loncatan.&#xD;
Kecepatan pada range 200-300 cm/detik, angka froude semakin besar nilainya,&#xD;
mendekati 2,5 (Fr &gt; 1), menunjukan aliran kritis dan subjektif, terjadi loncatan&#xD;
berombak dan loncatan lemah. Sesuai batasan kecepatan pengaliran yang diijinkan&#xD;
yaitu 2 m/detik maka pada sluran terebut keceptan &lt;= 200 cm/detik dengan kondisi&#xD;
aliran subkritis dan tidak terjadi loncatan menunjukan keamanan pengaliran ( tidak&#xD;
menimbulkan erosi di hilir saluran).</description>
      <pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/1912</guid>
      <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Penerapan Metode Value Engineering Pada Rumah Tipe 125</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/865</link>
      <description>Title: Penerapan Metode Value Engineering Pada Rumah Tipe 125
Authors: Swantara, Verensilia Apristi</description>
      <pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/865</guid>
      <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Perencanaan Lubang Resapan Biopori Dalam Upaya Mengurangi Volume Run Off Pada Area Tertutup Beton (Rabat)</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/864</link>
      <description>Title: Perencanaan Lubang Resapan Biopori Dalam Upaya Mengurangi Volume Run Off Pada Area Tertutup Beton (Rabat)
Authors: Damayanti, Maria Fransisca
Abstract: Berkurangnya lahan terbuka sebagai lahan resapan, menjadikan suatu aliran permukaan dan&#xD;
air hujan yang terserap oleh tanah menjadi sedikit. Maka, diperlukan sebuah antisipasi melalui&#xD;
penelitian perencanaan lubang resapan biopori dalam upaya mengurangi volume run off pada area&#xD;
tertutup beton (rabat) di RT 06 RW 03 Kelurahan Pandanwangi. Dengan luas area jalan sebesar&#xD;
0,53 Ha (Hektar). Tujuan tugas akhir ini adalah untuk merencanakan titik sebaran lubang resapan&#xD;
biopori (LRB) berdasarkan debit limpasan curah hujan (run off), laju infiltrasi (infiltration) dan&#xD;
kesesuaian lokasi. Metode penelitian adalah: (a) analisis debit limpasan curah hujan (run off)&#xD;
dengan Metode Rasional, (b) analisis laju infiltrasi dengan Model Horton, (c) analisis kebutuhan&#xD;
biopori dengan Metode Lubang Resapan Biopori (LRB), didapatkan dari debit limpasan curah&#xD;
hujan (run off) dibagi dengan laju infiltrasi (infiltration). (d) identifikasi kesesuaian lokasi untuk&#xD;
biopori didapat dari pengelompokkan. Hasil analisis menjelaskan bahwa: laju infiltrasi pada tanah&#xD;
sebesar 4,1678 mm/menit sedangkan pada beton adalah 0 atau tidak terjadi infiltrasi, debit&#xD;
limpasan curah hujan (run off) tanpa biopori sebesar 760,76 m3&#xD;
/menit dan debit limpasan curah&#xD;
hujan (run off) dengan biopori berkurang menjadi sebesar 328,52 m&#xD;
3&#xD;
/menit atau sebesar 32%.&#xD;
Lubang Resapan Biopori berjumlah 755 buah, lubang resapan biopori per unit dapat meresapkan&#xD;
air sebesar 0,4239 m3&#xD;
/menit dan sesuai diterapkan di sepanjang jalan pada lokasi terbangun.&#xD;
Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk 755 lubang resapan biopori didapatkan hasil Rp. Rp&#xD;
45.157.100.</description>
      <pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/864</guid>
      <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Perencanaan Geometrik Dan Perkerasan Jalan Bendungan Sutami – Galunggung (Spesifikasi Metode Bina Marga)</title>
      <link>https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/863</link>
      <description>Title: Perencanaan Geometrik Dan Perkerasan Jalan Bendungan Sutami – Galunggung (Spesifikasi Metode Bina Marga)
Authors: Belandina, Isabela Yovita
Abstract: Jalan memiliki peranan yang sangat penting untuk kehidupan sebagai prasarana transportasi darat&#xD;
yang menghubungkan daerah satu dan lainnya. Penelitian ini melakukan perencanaan geometrik dan&#xD;
perkerasan jalan menggunakan spesifikasi metode Bina Marga yang dilakukan pada ruas Jalan&#xD;
Bendungan Sutami – Galunggung sepanjang ± 1,1 km. Pada perencanaan geometrik dilakukan&#xD;
perencanaan untuk alinyemen horisontal pada sta. 0+104,55 dan sta. 0+496,70 dengan&#xD;
memvariasikan tipe lengkung yang sama (Full Circle – Full Circle atau Spiral Circle Spiral – Spiral&#xD;
Circle Spiral atau Spiral Spiral – Spiral Spiral). Sedangkan untuk alinyemen vertikal adalah&#xD;
memvariasikan panjang lengkung (Lv) pada lengkung vertikal cembung dan cekung. Tujuan&#xD;
diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui jarak minimum yang dapat ditempuh dengan&#xD;
melakukan variasi terhadap alinyemen horisontal dan vertikal serta perencanaan perkerasan jalan.&#xD;
Keunggulan penelitian ini dibanding penelitian sebelumnya adalah pada penelitian ini melakukan&#xD;
perencanaan alinyemen vertikal serta melakukan penggabungan antara alinyemen horisontal dan&#xD;
vertikal. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sumber data adalah data primer yang&#xD;
berasal dari pengukuran stationing dan elevasi dilokasi objek penelitian menggunakan aplikasi dan&#xD;
data sekunder berupa parameter perencanaan geometrik dan perkerasan jalan dari studi literatur.&#xD;
Dari hasil penelitian diperoleh jalan dengan jarak tempuh minimum adalah variasi alinyemen&#xD;
horisontal (FC) dengan R=900 m dan R=500 m dan alinyemen vertikal, dengan jarak sejauh 1086,06&#xD;
m. Pada perencanaan perkerasan diperoleh hasil lapis permukaan = 20 cm, lapis pondasi = 20 cm&#xD;
dan lapis pondasi bawah = 10 cm.</description>
      <pubDate>Fri, 01 Jan 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">https://repository.ukwk.ac.id/handle/123456789/863</guid>
      <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

